" Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan | Kumpulan Artikel | Tips-Tips | Asuhan Keperawatan | Laporan Pendahuluan | Kegiatan Organisasi | Serba-Serbi | Dunia Islam | Dan Lain-Lain "

Laporan Pendahuluan Gastritis

Created by : Dini Kurniawati
Yogyakarta, 3 Desember 2012

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh....
 

LAPORAN PENDAHULUAN
GASTRITIS







DISUSUN OLEH :
DINI KURNIAWATI
(  M10.01.0031 )

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MADANI
YOGYAKARTA
2012




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah Subhaanahuwata’alaa Yang Maha Mendengar Lagi Maha Melihat dan atas segala limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Asuhan Keperawatan pada waktu yang telah direncanakan.
Tugas Asuhan Keperawatan ini merupakan salah satu tugas yang harus dipenuhi mahasiswa dalam rangka untuk memenuhi tugas Praktik Keperawatan Dewasa 1 ( PKD 1 ).
Dalam proses menyelesaikan tugas Asuhan Keperawatan ini, tentunya banyak pihak yang telah memberikan bantuan berupa ilmu, saran, serta kritik yang menunjang, yang berarah positif  pada tugas ini. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1.      Dr. Arifuddin, Sp. OP selaku pimpinan Stikes Madani Yogyakarta
2.      Bpk. Dian Miftahul Mizan S. Kep, Ns selaku Dosen Kaprodi Stikes Madani Yogyakarta
3.      Bpk. Arif Rohman Mansyur S. Kep, Ns selaku dosen pengampu dalam mata kuliah PKD1
4.      Bpk. Hadi Muntiknyo S. Kep, Ns selaku CI pembimbing ruang UPI RSUD. Caruban Madiun
Penulis menyadari bahwa tugas Asuhan Keperawatan ini masih jauh dari kesempurnaan, maka penulis harapkan saran dan kritik yang konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan selanjutnya.
            Akhirnya hanya kepada Allah Subhaanahuwata’alaa kita kembalikan semua urusan dan semoga Asuhan Keperawatan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi kami mahasiswa ilmu keperawatan.

Yogyakarta ,September 2012


Penulis




DAFTAR ISI


Kata Pengantar ................................................................................... 
Daftar Isi          ................................................................................... 
BAB I     PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.............................................................. 
B.     Rumusan Masalah.......................................................... 
C.     Tujuan............................................................................ 
D.    Manfaat......................................................................... 
BAB II    TINJAUAN TEORI
A.    Definisi.......................................................................... 
B.     Anatomi dan fisiologi.................................................... 
C.     Klasifikasi...................................................................... 
D.    Etiologi ......................................................................... 
E.     Patofisiologi .................................................................. 
F.      Komplikasi.....................................................................
G.    Tanda dan gejala ........................................................... 
H.    Pemeriksaan penunjang................................................. 
I.       Penatalaksanaan ............................................................ 
J.       Pengkajian .................................................................... 
K.    Diagnosa keperawatan................................................... 
L.     Perencanaan .................................................................. 
BAB III  PENUTUP
A.    Kesimpulan.................................................................... 
B.     Saran.............................................................................. 
Daftar Pustaka  ................................................................................... 




BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Gastritis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok kondisi dengan satu hal yaitu radang selaput perut . Peradangan ini  (gastritis) sering kali adalah hasil dari infeksi bakteri Helicobacter Pylori yang menyebabkan radang perut yang paling sering ditemukan. Di negara berkembang prevalensi infeksi Helicobacter Pylori pada orang dewasa mendekati angka 90%. Sedangkan pada anak-anak prevalensinya lebih tinggi lagi. Penelitian serologis yang dilakukan secara cross sectional bertambahnya prevelansi penyakit ini sesuai dengan pertambahan usia. Penyebab penyakit ini adalah gram negative, basil yang berbentuk kurva dan batang. Namun, banyak faktor lain seperti cedera traumatis, penggunaan obat penghilang rasa sakit tertentu atau minum alkohol terlalu banyak, merokok, kafein lada, steroid , mekanis iritasi bakterial, obat anti inflamasi terutama aspirin juga dapat berkontribusi untuk terjadinya gastritis.
Gastritis dapat terjadi secara mendadak (gastritis akut) atau bisa terjadi perlahan-lahan dari waktu ke waktu (gastritis kronis). Dalam beberapa kasus, gastritis dapat menyebabkan ulkus pada lambung dan peningkatan risiko kanker perut. Bagi kebanyakan orang, gastritis tidaklah serius dan dapat dengan cepat mereda bahkan sembuh dengan pengobatan.
Gastritis merupakan salah satu penyakit yang paling banyak dijumpai diklinik Penyakit Dalam ( IPD jilid II Edisi 3). Gastritis akut merupakan penyakit yang sering ditemukan biasanya jinak dan dapat sembuh sendiri ( Patofisiologi Sylvia & Wilson) dan ± 80 - 90% yang dirawat di ICU menderita gastritis akut.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi dari Gastritis ?
2.      Bagaimana patofisiologi dari Gastritis ?
3.      Apa saja penyebab dari Gastritis ?
4.      Apa tanda dan gejala dari Gastritis ?
5.      Bagaimana penatalaksanaan pasien dengan Gastritis ?
6.      Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Gastritis ?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi dari Gastritis
2.      Untuk mengetahui patofisiologi Gastritis
3.      Untuk mengetahui apa saja penyebab dari Gastritis
4.      Untuk mengetahui apa tanda dan gejala dari Gastritis
5.      Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan pasien dengan Gastritis
6.      Untuk mengetahui Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Gastritis.

D.    Manfaat
1.      Bagi Penulis
                                   Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai penyebab serta upaya pencegahan penyakit gastritis agar terciptanya kesehatan masyarakat yang lebih baik.
2.      Bagi Pembaca
Diharapkan agar pembaca dapat mengetahui tentang penyakit gastritis lebih dalam sehingga dapat mencegah serta mengantisipasi diri dari penyakit gastritis.
3.      Bagi Petugas Kesehatan
Diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi dalam penanganan penyakit gastritis sehingga dapat meningkatkan pelayanan keperawatan yang baik.
4.      Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menambah informasi tentang penyakit gastritis serta dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini.




BAB II
TINJAUAN TEORI


      A.    Pengertian
Gastritis atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa yunani yaitu gastro, yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti inflamasi/peradangan. Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Kapita Selecta Kedokteran, Edisi Ketiga hal 492). Gastritis adalah segala radang mukosa lambung ( Buku Ajar Keperawatan Medikal  Bedah ,Edisi  Kedelapan  hal 1062). Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau local. (Patofisiologi, Sylvia A Price hal 422). Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung yang dapat bersifat akut kronik, difus atau lokal (Soepaman, 1998). Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Arif Mansjoer, 1999). Gastritis adalah radang mukosa lambung (Sjamsuhidajat, R, 1998).

B.     Anatomi Fisiologi
Lambung merupakan suatu organ yang terletak antara  esophagus dengan duodenum, terletak pada region epigastrium dan merupakan organ intraperitonel. Berbentuk menyerupai huruf J dan terdiri dari fundus, corpus dan pylorus. Memiliki  2 buah permukaan yaitu permukan anterior dan posterior serta memiliki 2 buah kurvatura yaitu mayor dan minor. Lambung memiliki dua buah orifisium yaitu orifisium kardia dan pilori. Permukaan anterior lambung berhubungan dengan diafragma, lobus kiri dari hepar serta dinding anterior abdomen. Permukaan posterior berbatasan dengan aorta, pancreas, limpa, ginjal kiri, kelenjar supra renal serta mesokolon transversum. Suplai pembuluh darah berasal dari beberapa arteri utama yaitu:
  1. Gastrika kiri, cabang aksis coeliacus berjalan sepanjang kurvatura minor.
  2. Gastrika kanan, cabang a.hepatica, beranastomose dengan a.gastrika kiri.
  3. Gastroepiploika kanan, cabang a.gastroduodenal yang merupakan cabang a.hepatica, memperdarahi lambung yang berjalan pada kurvatura mayor.
  4. Gastroepiploika kiri, cabang a.lienalis dan beranastomosis dengan a. gastroepploika kanan.
  5. Pada fundus terdapat a. gastrika brevis, cabang dari arteri lienalis.
Aliran vena lambung mengikuti nama dari arteri arteri yang memperdarahi lambung dan aliran vena lambung akan menuju ke vena porta. Aliran limfe lambung juga mengikuti daerah daerah yang diperdarahi arteri arteri lambung. Pada daerah yang diperdarahi cabang arteri lienalis maka aliran limfe akan bermuara ke hilus lienalis, sedangkan pada sepanjang arteri gastrika kiri akan bermuara ke limfe sekitar aksis coeliakus. Daerah kurvatura mayor akan bermuara ke limfe nodus subpilorik yang selanjutnya bermuara ke limfe nodus coeliacus.
Lambung mendapatkan innervasi dari nervus vagus, baik nervus vagus anterior dan posterior masuk kedalam cavum abdominalis melalui hiatus esophagus. Vagus anterior  akan menginervasi bagian lambung di sepanjang kurvatura minor dan permukaan anterior lambung. Sedangkan vagus posterior akan menginervasi permukaan posterior.
Secara histologi, lambung terdiri atas 5 lapisan,yaitu: mukosa, submukosa, muskularis, subserosa & serosa. Pada cardia terdapat kelenjar yang menghasilkan musin/lendir. Fundus dan corpus merupakan 4/5 dari permukaan lambung memiliki 3 macam sel, yaitu:
1.            Sel musin yang menghasilkan lendir, terutama terletak di bagian atas
2.            Sel utama menghasilkan pepsinogen
3.            Sel parietal menghasilkan HCl dan faktor intrinsik Castle. Jika bercampur dengan faktor ekstrinsik akan membentuk vitamin B12 (faktor antianemia).
Juga ditemukan sel argentafin yang tersebar, yaitu sel yang dapat dipulas dengan perak dan mempunyai fungsi endokrin.
Mukosa, lapisan dalam lambung tersusun dari lipatan-lipatan longitudinal yang disebut rugae, sehingga dapat berdistensi waktu diisi makanan. Submukosa, Jaringan areolar yang menghubungkan lapisan mukosa dan muskularis bergerak bersama gerakan peristaltik mengandung pleksus saraf, pembuluh darah dan saluran limfe. Muskularis, → tiga lapis otot polos: lapisan longitudinal (luar), lapisan sirkular (tengah) & lapisan oblik (dalam)√†memecahkan, mengaduk & mencampur dengan cairan lambung, dan mendorongnya ke arah duodenum.
Serosa/Subserosa → Merupakan bagian dari peritoneum viseralis. Dua lapisan peritoneum viseralis menyatu pada kurvatura minor lambung dan duodenum dan memanjang ke arah hati, membentuk omentum minus.
Fungsi lambung sebagai berikut :
  a.      Fungsi motorik :
  1. Fungsi Reservoir : Menyimpan makanan.
  2. Fungsi Mencampur : Memecahkan menjadi pertikel kecil dan mencampurnya dengan getah lambung melalui kontraksi otot yang mengelilingi lambung.
  3. Fungsi Pengosongan: Pengosongan diatur  oleh faktor saraf dan hormonal.
4.      Fungsi pencernaan dan sekresi :
  1. Pencernaan protein oleh pepsin dan HCL dimulai disini.
  2. Sintesis & skresi gastrin dipengaruhi oleh protein yang dimakan,peregangan antrum,alkalinisasi antrum dan rangsangan vagus.
  3. Sekresi faktor intrinsik → absorpsi vitamin B12 dari usus halus bagian distal.
  4. Sekresi mukus → Melindungi lambung & sebagai pelumas.
 Faktor pertahanan mukosa gastro-duodenal
Epitel lambung diiritasi oleh 2 faktor yaitu endogen (HCL,pepsinogen/ pepsin & garam empedu) dan eksogen (obat-obatan,alkohol dan bakteri), maka terdapat sistem pertahanan mukosa gastroduodenal yang terdiri dari :
  1. Lapisan pre epitel: Berisi mukus bikarbonat (air 95% & lipid glikoprotein) → sebagai rintangan fisikokemikal terhadap molekul seperti ion hydrogen.
  2. Sel epitel : Menghasilkan mukus,transportasi ionik sel epitel serta produksi bikarbonatàmempertahankan pH (6-7) intraseluler, intracellular tight junction.
  3. Sub epitel : Sistem mikrovaskuler dalam lapisan submukosa lambung adalah komponen kunci dari pertahanan sub epitel.
Fisiologi Sekresi Lambung
Fase sefalik. Menghasilkan sekitar 10% dari sekresi lambung normal yang berhubungan dengan makanan. Penglihatan,penciuman dan rasa dari makanan merupakan komponen fase sefalik melalui perangsangan nervus vagus.Sinyal neurogenik yag menyebabkan fase sefalik berasal dari korteks serebri atau pusat nafsu makan.
Fase Gastrik. Terjadi pada saat makanan masuk kedalam lambung,komponen sekresi adalah kandungan makanan yang terdapat didalamnya (asam amino dan amino bentuk lainnya) yang secara langsung merangsang sel G untuk melepaskan gastrin yang selanjutnya mengaktifasi sel-sel parietal melalui mekanisme langsung maupun tidak langsung.Peregangan dinding lambung memicu pelepasan gastrin dan produksi asam.
Fase intestinal. Sekresi asam lambung dimulai pada saat makanan masuk kedalam usus dan diperantarai oleh adanya peregangan usus dan pencempuran  kandungan makanan yang ada.

C.    Klasifikasi Gastritis
Gastritis menurut jenisnya terbagi menjadi 2, yaitu (David Ovedorf 2002) :
1.      Gastritis akut
Disebabkan oleh mencerna asam atau alkali kuat yang dapat menyebabkan mukosa menjadi gangren atau perforasi. Gastritis akut dibagi menjadi dua garis besar yaitu :
a.       Gastritis Eksogen akut ( biasanya disebabkan oleh faktor-faktor dari luar, seperti bahan kimiamisal : lisol, alkohol, merokok, kafein lada, steroid , mekanis iritasi bakterial, obat analgetik, anti inflamasi terutama aspirin (aspirin yang dosis rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung) ).
b.      Gastritis Endogen akut
2.       Gastritis Kronik
Inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna
atau maligna dari lambung, atau oleh bakteri Helicobacter pylory (H. Pylory). Gastritis kronik dikelompokkan lagi dalam 2 tipe yaitu tipe A dan tipe B. Dikatakan gastritis kronik tipe A jika mampu menghasilkan imun sendiri. Tipe ini dikaitkan dengan atropi dari kelenjar lambung dan penurunan mukosa. Penurunan pada sekresi gastrik mempengaruhi produksi antibodi. Anemia pernisiosa berkembang pada proses ini.  Gastritis kronik tipe B lebih lazim. Tipe ini dikaitkan dengan infeksi helicobacter pylori yang menimbulkan ulkus pada dinding lambung.
                                                                                          
D.    Etiologi
Beberapa penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinyagastritis antara lain :
1.       Infeksi bakteri. Sebagian besar populasi di dunia terinfeksi oleh bakteri H. Pylori yang hidup di bagian dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding lambung. Walaupun tidak sepenuhnya dimengerti bagaimana bakteri tersebut dapat ditularkan, namun diperkirakan penularan tersebut terjadi melalui jalur oral atau akibat memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri ini. Infeksi H. pylori sering terjadi pada masa kanak – kanak dan dapat bertahan seumur hidup jika tidak dilakukan perawatan. Infeksi H. pylori ini sekarang diketahui sebagai penyebab utama terjadinya peptic ulcer dan penyebab tersering terjadinya gastritis. Infeksi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan peradangan menyebar yang kemudian mengakibatkan perubahan pada lapisan pelindung dinding lambung. Salah satu perubahan itu adalah atrophic gastritis, sebuah keadaan dimana kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung secara perlahan rusak. Peneliti menyimpulkan bahwa tingkat asam lambung yang rendah dapat mengakibatkan racun-racun yang dihasilkan oleh kanker tidak dapat dihancurkan atau dikeluarkan secara sempurna dari lambung sehingga meningkatkan resiko (tingkat bahaya) dari kanker lambung. Tapi sebagian besar orang yang terkena infeksi H. pylori kronis tidak mempunyai kanker dan tidak mempunyai gejala gastritis, hal ini mengindikasikan bahwa ada penyebab lain yang membuat sebagian orang rentan terhadap bakteri ini sedangkan yang lain tidak.
2.      Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus. Obat analgesik anti inflamasi nonsteroid (AINS) seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen dapat menyebabkan peradangan pada lambung dengan cara mengurangi prostaglandin yang bertugas melindungi dinding lambung. Jika pemakaian obat – obat tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya masalah lambung akan kecil. Tapi jika pemakaiannya dilakukan secara terus menerus atau pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkan gastritis dan peptic ulcer.
3.      Penggunaan alkohol secara berlebihan. Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam lambung walaupun pada kondisi normal.
4.      Penggunaan kokain. Kokain dapat merusak lambung dan menyebabkan pendarahan dan gastritis.
5.      Stress fisik. Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau infeksi berat dapat menyebabkan gastritis dan juga borok serta pendarahan pada lambung.
6.       Kelainan autoimmune. Autoimmune atrophic gastritis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal ini mengakibatkan peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding lambung, menghancurkan kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung dan menganggu produksi faktor intrinsic (yaitu sebuah zat yang membantu tubuh mengabsorbsi vitamin B-12). Kekurangan B-12, akhirnya, dapat mengakibatkan pernicious anemia, sebuah konsisi serius yang jika tidak dirawat dapat mempengaruhi seluruh sistem dalam tubuh. Autoimmune atrophic gastritis terjadi terutama pada orang tua.
7.      Crohn’s disease. Walaupun penyakit ini biasanya menyebabkan peradangan kronis pada dinding saluran cerna, namun kadang-kadang dapat juga menyebabkan peradangan pada dinding lambung. Ketika lambung terkena penyakit ini, gejala-gejala dari Crohn’s disease (yaitu sakit perut dan diare dalam bentuk cairan) tampak lebih menyolok daripada gejala-gejala gastritis.
8.       Radiasi and kemoterapi. Perawatan terhadap kanker seperti kemoterapi dan radiasi dapat mengakibatkan peradangan pada dinding lambung yang selanjutnya dapat berkembang menjadi gastritis dan peptic ulcer. Ketika tubuh terkena sejumlah kecil radiasi, kerusakan yang terjadi biasanya sementara, tapi dalam dosis besar akan mengakibatkan kerusakan tersebut menjadi permanen dan dapat mengikis dinding lambung serta merusak kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung.
9.       Penyakit bile reflux. Bile (empedu) adalah cairan yang membantu mencerna lemak-lemak dalam tubuh. Cairan ini diproduksi oleh hati. Ketika dilepaskan, empedu akan melewati serangkaian saluran kecil dan menuju ke usus kecil. Dalam kondisi normal, sebuah otot sphincter yang berbentuk seperti cincin (pyloric valve) akan mencegah empedu mengalir balik ke dalam lambung. Tapi jika katup ini tidak bekerja dengan benar, maka empedu akan masuk ke dalam lambung dan mengakibatkan peradangan dan gastritis.
10.   Faktor-faktor lain. Gastritis sering juga dikaitkan dengan konsisi kesehatan lainnya seperti HIV/AIDS, infeksi oleh parasit, dan gagal hati atau ginjal

   E.     Patofisiologi
                           1.   Gastritis Akut
                         Gastritis akut dapat disebabkan oleh karena stres, zat kimia misalnya obat-obatan dan alkohol, makanan yang pedas, panas maupun asam. Pada orang yang mengalami stres akan terjadi perangsangan saraf simpatis NV (Nervus vagus) yang akan meningkatkan produksi asam klorida (HCl) di dalam lambung. Adanya HCl yang berada di dalam lambung akan menimbulkan rasa mual, muntah dan anoreksia. Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan menyebabkan sel epitel kolumner, yang berfungsi untuk menghasilkan mukus, mengurangi produksinya. Sedangkan mukus itu fungsinya untuk memproteksi mukosa lambung agar tidak ikut tercerna. Respon mukosa lambung karena penurunan sekresi mukus bervariasi diantaranya vasodilatasi sel mukosa gaster. Lapisan mukosa gaster terdapat sel yang memproduksi HCl (terutama daerah fundus) dan pembuluh darah. Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCl meningkat. Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini ditimbulkan oleh karena kontak HCl dengan mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat penurunan sekresi mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi sel mukosa gaster akan mengakibatkan erosi pada sel mukosa. Hilangnya sel mukosa akibat erosi memicu timbulnya perdarahan. Perdarahan yang terjadi dapat mengancam hidup penderita, namun dapat juga berhenti sendiri karena proses regenerasi, sehingga erosi menghilang dalam waktu 24-48 jam setelah perdarahan.
                  2.         Gastritis Kronis
        Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif. Organisme ini menyerang sel permukaan gaster, memperberat timbulnya desquamasi sel dan muncullah respon radang kronis pada gaster yaitu: destruksi kelenjar dan metaplasia. Metaplasia adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap iritasi, yaitu dengan mengganti sel mukosa gaster, misalnya dengan sel desquamosa yang lebih kuat. Karena sel desquamosa lebih kuat maka elastisitasnya juga berkurang. Pada saat mencerna makanan, lambung melakukan gerakan peristaltik tetapi karena sel penggantinya tidak elastis maka akan timbul kekakuan yang pada akhirnya menimbulkan rasa nyeri. Metaplasia ini juga menyebabkan hilangnya sel mukosa pada lapisan lambung, sehingga akan menyebabkan kerusakan pembuluh darah lapisan mukosa. Kerusakan pembuluh darah ini akan menimbulkan perdarahan (Price, Sylvia dan Wilson, Lorraine, 1999: 162).
     
   F.     Komplikasi
1.      Gastritis Akut
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh gastritis akut adalah perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hematemesis dan melena, dapat berakhir sebagai syock hemoragik. Khusus untuk perdarahan SCBA, perlu dibedakan dengan tukak peptik. Gambaran klinis yang diperlihatkan hampir sama. Namun pada tukak peptik penyebab utamanya adalah H. pylory, sebesar 100% pada tukak duodenum dan 60-90 % pada tukak lambung. Diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan endoskopi.
2.      Gastritis Kronis
Komplikasi yang timbul Gastritis Kronik, yaitu gangguan penyerapan vitamin B 12, akibat kurang pencerapan, B 12 menyebabkan anemia pernesiosa, penyerapan besi terganggu dan penyempitan daerah antrum pylorus. Gastritis Kronis juka dibiarkan dibiarkan tidak terawat, gastritis akan dapat menyebabkan ulkus peptik dan pendarahan pada lambung. Beberapa bentuk gastritis kronis dapat meningkatkan resiko kanker lambung, terutama jika terjadi penipisan secara terus menerus pada dinding lambung dan perubahan pada sel-sel di dinding lambung.

   G.    Tanda Dan Gejala
  1. Gastritis akut sangat bervariasi , mulai dari yang sangat ringan asimtomatik sampai sangat berat yang dapat membawa kematian. Pada kasus yang sangat berat, gejala yang sangat mencolok adalah :
a.       Hematemetis dan melena yang dapat berlangsung sangat hebat sampai terjadi renjatan karena kehilangan darah.
b.      Pada sebagian besar kasus, gejalanya amat ringan bahkan asimtomatis. Keluhan – keluhan itu misalnya nyeri timbul pada uluhati, biasanya ringan dan tidak dapat ditunjuk dengan tepat lokasinya.
c.        Kadang – kadang disertai dengan mual- mual dan muntah.
d.      Perdarahan saluran cerna sering merupakan satu- satunya gejala.
e.       Pada kasus yang amat ringan perdarahan bermanifestasi sebagai darah samar pada tinja dan secara fisis akan dijumpai tanda – tanda anemia defisiensi dengan etiologi yang tidak jelas.
f.       Pada pemeriksaan fisis biasanya tidak ditemukan kelainan kecuali mereka yang mengalami perdarahan yang hebat sehingga menimbulkan tanda dan gejala gangguan hemodinamik yang nyata seperti hipotensi, pucat, keringat dingin, takikardia sampai gangguan kesadaran.
       2.      Gastritis kronis
    1. Bervariasi dan tidak jelas
    2. Perasaan penuh, anoreksia
    3. Distress epigastrik yang tidak nyata
    4. Cepat kenyang

    H.    Pemeriksaan Penunjang
1.      Endoskopi : akan tampak erosi multi yang sebagian biasanya berdarah dan letaknya tersebar.
2.      Pemeriksaan Hispatologi : akan tampak kerusakan mukosa karena erosi tidak pernah melewati mukosa muskularis.
3.      Pemeriksaan radiology.
4.      Pemeriksaan laboratorium.
5.      Analisa gaster : untuk mengetahui tingkat sekresi HCL, sekresi HCL menurun pada klien dengan gastritis kronik.
6.      Kadar serum vitamin B12 : Nilai normalnya 200-1000 Pg/ml, kadar vitamin B12 yang rendah merupakan anemia megalostatik.
7.      Kadar hemagiobi, hematokrit, trombosit, leukosit dan albumin.
8.      Gastroscopy.Untuk mengetahui permukaan mukosa (perubahan) mengidentifikasi area perdarahan dan mengambil jaringan untuk biopsi.
9.      EGD (Esofagogastriduodenoskopi) = tes diagnostik kunci untuk perdarahan GI atas, dilakukan untuk melihat sisi perdarahan / derajat ulkus jaringan / cedera.
10.  Angiografi = vaskularisasi GI dapat dilihat bila endoskopi tidak dapat disimpulkan atau tidak dapat dilakukan. Menunjukkan sirkulasi kolatera dan kemungkinan isi perdarahan.
11.  Amilase serum = meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah diduga gastritis (Doengoes, 1999, hal: 456).

    I.       Penatalaksanaan
Penatalaksanaan gastritis secara umum adalah menghilangkan faktor utama yaitu etiologinya, diet lambung dengan porsi kecil dan sering, serta Obat-obatan. Namun secara spesifik dapat dibedakan sebagai berikut :
a.        Gastritis Akut
    1. Kurangi minum alkohol dan makan sampai gejala-gejala  menghilang; ubah menjadi diet yang tidak mengiritasi.
    2. Jika gejala-gejala menetap, mungkin diperlukan cairan IV.
    3. Jika gastritis terjadi akibat menelan asam kuat atau alkali, encerkan dan netralkan asam dengan antasida umum, misalnya aluminium hidroksida, antagonis reseptor H2, inhibitor pompa proton, antikolinergik dan sukralfat (untuk sitoprotektor).
    4. Jika gastritis terjadi akibat menelan basa kuat, gunakan sari buah jeruk yang encer atau cuka yang di encerkan.
    5. Jika korosi parah, hindari emetik dan bilas lambung karena bahaya perforasi.
    6. Antasida : Antasida merupakan obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau tablet dan merupakan obat yang umum dipakai untuk mengatasi gastritis ringan. Antasida menetralisir asam lambung dan dapat menghilangkan rasa sakit akibat asam lambung dengan cepat.
    7. Penghambat asam : Ketika antasida sudah tidak dapat lagi mengatasi rasa sakit tersebut, dokter kemungkinan akan merekomendasikan obat seperti cimetidin, ranitidin, nizatidin atau famotidin untuk mengurangi jumlah asam lambung yang diproduksi.
    b.      Gastritis Kronis
    1. Modifikasi diet, reduksi stress, dan farmakoterapi.
    2. Cytoprotective agents : Obat-obat golongan ini membantu untuk melindungi jaringan-jaringan yang melapisi lambung dan usus kecil. Yang termasuk ke dalamnya adalah sucraflate dan misoprostol. Jika meminum obat-obat AINS secara teratur (karena suatu sebab), dokter biasanya menganjurkan untuk meminum obat-obat golongan ini. Cytoprotective agents yang lainnya adalah bismuth subsalicylate yang juga menghambat aktivitas H. Pylori.
    3. Penghambat pompa proton : Cara yang lebih efektif untuk mengurangi asam lambung adalah dengan cara menutup “pompa” asam dalam sel-sel lambung penghasil asam. Penghambat pompa proton mengurangi asam dengan cara menutup kerja dari “pompa-pompa” ini. Yang termasuk obat golongan ini adalah omeprazole, lansoprazole, rabeprazole dan esomeprazole. Obat-obat golongan ini juga menghambat kerja H. pylori.
    4. H. phylory mungkin diatasi dengan antibiotik (mis; tetrasiklin atau amoxicillin) dan garam bismuth (pepto bismol) atau terapi H.Phylory. .Terapi terhadap H. Pylori. Terdapat beberapa regimen dalam mengatasi infeksi H. pylori. Yang paling sering digunakan adalah kombinasi dari antibiotik dan penghambat pompa proton. Terkadang ditambahkan pula bismuth subsalycilate. Antibiotik berfungsi untuk membunuh bakteri, penghambat pompa proton berfungsi untuk meringankan rasa sakit, mual, menyembuhkan inflamasi dan meningkatkan efektifitas antibiotik. Terapi terhadap infeksi H. pylori tidak selalu berhasil, kecepatan untuk membunuh H. pylori sangat beragam, bergantung pada regimen yang digunakan. Akan tetapi kombinasi dari tiga obat tampaknya lebih efektif daripada kombinasi dua obat. Terapi dalam jangka waktu yang lama (terapi selama 2 minggu dibandingkan dengan 10 hari) juga tampaknya meningkatkan efektifitas. Untuk memastikan H. pylori sudah hilang, dapat dilakukan pemeriksaan kembali setelah terapi dilaksanakan. Pemeriksaan pernapasan dan pemeriksaan feces adalah dua jenis pemeriksaan yang sering dipakai untuk memastikan sudah tidak adanya H. pylori. Pemeriksaan darah akan menunjukkan hasil yang positif selama beberapa bulan atau bahkan lebih walaupun pada kenyataanya bakteri tersebut sudah hilang.

    J.      Pengkajian
                        1.   Aktivitas / Istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan
Tanda : takikardia, takipnea / hiperventilasi (respons
terhadap aktivitas)
                        2.   Sirkulasi
Gejala : hipotensi (termasuk postural)
, takikardia, disritmia (hipovolemia /  hipoksemia), kelemahan / nadi perifer lemah, pengisian kapiler lambar / perlahan (vasokonstriksi), warna kulit : pucat, sianosis (tergantung pada jumlah kehilangan darah), kelemahan kulit / membran mukosa = berkeringat (menunjukkan status syok, nyeri akut, respons psikologik)
                        3.    Integritas ego
Gejala : faktor stress akut atau kronis (keuangan, hubungan kerja), perasaan tak berdaya.
Tanda : tanda ansietas, misal : gelisah, pucat, berkeringat, perhatian menyempit, gemetar, suara gemetar.
                        4.    Eliminasi
Gejala : riwayat perawatan di rumah sakit sebelumnya karena perdarahan gastro interitis (GI) atau masalah yang berhubungan dengan GI, misal: luka peptik / gaster, gastritis, bedah gaster, iradiasi area gaster. Perubahan pola defekasi / karakteristik feses.
Tanda : nyeri tekan abdomen, distensi
, bunyi usus sering hiperaktif selama perdarahan, hipoaktif setelah perdarahan. Karakteristik feses : diare, darah warna gelap, kecoklatan atau kadang-kadang merah cerah, berbusa, bau busuk (steatorea). Konstipasi dapat terjadi (perubahan diet, penggunaan antasida), haluaran urine menurun, pekat.
                        5.   Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia, mual, muntah (muntah yang memanjang diduga obstruksi pilorik bagian luar sehubungan dengan luka duodenal).
Masalah menelan : cegukan
. Nyeri ulu hati, sendawa bau asam, mual / muntah.
Tanda : muntah : warna kopi gelap atau merah cerah, dengan atau tanpa bekuan darah. Membran mukosa kering, penurunan produksi mukosa, turgor kulit buruk (perdarahan kronis).
                        6.    Neurosensi
Gejala : rasa berdenyut, pusing / sakit kepala karena sinar, kelemahan.
Status mental : tingkat kesadaran dapat terganggu, rentang dari agak cenderung tidur, disorientasi / bingung, sampai pingsan dan koma (tergantung pada volume sirkulasi / oksigenasi).
                        7.   Nyeri / Kenyamanan
Gejala : nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa terbakar, perih, nyeri hebat tiba-tiba dapat disertai perforasi. Rasa ketidaknyamanan / distres samar-samar setelah makan banyak
dan hilang dengan makan (gastritis akut). Nyeri epigastrum kiri sampai tengah / atau menyebar ke punggung terjadi 1-2 jam setelah makan dan hilang dengan antasida (ulus gaster). Nyeri epigastrum kiri sampai / atau menyebar ke punggung terjadi kurang lebih 4 jam setelah makan bila lambung kosong dan hilang dengan makanan atau antasida (ulkus duodenal). Tak ada nyeri (varises esofegeal atau gastritis).
Faktor pencetus : makanan, rokok, alkohol, penggunaan obat-obatan tertentu (salisilat, reserpin, antibiotik, ibuprofen), stresor psikologis.
Tanda : wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat, berkeringat, perhatian menyempit.

     K.    Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
                        1.      Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis ( peradangan pada mukosa lambung )
                        2.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan factor biologis
                        3.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (muntah), intake tidak adekuat
                        4.      Hipertermi berhubungan dengan penyakit
                        5.      Insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik

    L.     Perencanaan
NOC
NIC
Pain Control :
  1. Mengenali faktor penyebab
  2. Mengenali onset (lamanya sakit)
  3. Menggunakan metode pencegahan untuk mengurangi nyeri
  4. Menggunakan metode nonanalgetik untuk mengurangi nyeri
  5. Mengunakan analgesik sesuai dengan kebutuhan
  6. Mencari bantuan tenaga kesehatan
  7. Melaporkan gejala pada petugas kesehatan
  8. Mengenali gejala gejala nyeri
  9. Melaporkan nyeri  yang sudah terkontrol

Pain Management :
1.         Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
2.         Kaji nyeri secara komprehensif meliputi ( lokasi, karakteristik, dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri )
3.         Kaji skala nyeri
4.         Gunakan komunikasi terapeutik agar klien dapat mengekspresikan nyeri
5.         Kaji factor yang dapat menyebabkan nyeri timbul
6.         Anjurkan pada pasien untuk cukup istirahat
7.         Control  lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
8.         Monitor tanda tanda vital
9.         Ajarkan tentang teknik nonfarmakologi (relaksasi) untuk mengurangi nyeri
10.     Jelaskan factor factor yang dapat mempengaruhi nyeri
11.              Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
Nutritional Status
1.      Intake nutrisi baik
2.      Intake makanan baik
3.      Asupan cairan cukup
4.      Peristaltic usus normal
5.      Berat badan meningkat








Nutrion Management
1.              Monitor catatan masukan kandungan nutrisi dan kalori.
2.              Anjurkan masukan kalori yang tepat sesui dengan tipe tubuh dan gaya hidup.
3.              Berikan makanan pilihan.
4.              Anjurkan penyiapan dan penyajian makanan dengan teknik yang aman.
5.              Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana cara memperolehnya
6.      Kaji adanya alergi makanan
7.      Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
8.      Yakinkan diet yang dimakan mengandungtinggi serat untuk mencegah konstipasi
9.      Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian
10.  Monitor adanya penurunan BB dan guladarah
11.  Monitor lingkungan selama makan
12.  Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidakselama jam makan
13.  Monitor turgor kulit
14.  Monitor kekeringan, rambut kusam, totalprotein, Hb dan kadar Ht
15.  Monitor mual dan muntah
16.  Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
17.  Monitor intake nuntrisi
Fluid Balance
  1. Tekanan daran  rentang normal
  2. Denyut nadi  kuat
  3. Intake dan output  dalam 24 jam seimbang
  4. Berat badan stabil
  5. Mata tidak cowong
  6. Mukosa bibir lembab
  7. Hidrasi kulit baik

Fluid Management

1.              Timbang berat badan tiap hari
2.              Jaga keakuratan catatan intake dan output
3.              Monitor status hidrasi (kelembapan mukosa membran, denyut nadi, tekanan darah ortostatikl)
4.              Monitor vital signs
5.              Monitor status nurtrisi
6.              Berikan cairan
7.              Berikan terpai intravena jika diresepkan
8.              Tingkatkan masukan oral
9.              Berikan snack
10.       Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
Thermoregulation
1.      Tidak menggigil
2.      Nadi dbn ( 60-100 x/ menit)
3.      RR dbn ( 16-24 x/ menit)
4.      Suhu dbn (36-37°C)












Temperature regulation
1.      Monitor suhu min tiap 2 jam
2.      Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
3.      Monitor TD nadi dan RR
4.      Monitor tanda tanda hipertermi
5.      Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
6.      Berikan anti piretik bila perlu
7.      Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu
8.      Berikan kompres hangat
9.      Monitor TTV

Sleep
1.      Jam tidur labih cepat.
2.      Kebiasan tidur kembali seperti semula.
3.      Kualitas tidur 7 – 8 jam.
4.      Tidur nyenyak.
5.      Tidak gelisah
6.      Tidur teratur setiap malam secara konsisten.

Sleep enhancement
1.      Instruksikan pasien untuk tidur pada waktunya
2.      Monitor waktu tidur pasien
3.      Identifikasi penyebab kekurangan tidur pasien.
4.      Menambah waktu tidur pasien.
5.      Diskusi dengan pasien dan keluarga pasien untuk meningkatkan tekhnik tidur.
6.      Menentukan pola tidur pasien






BAB III
PENUTUP

A.       KESIMPULAN
Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau local. (Patofisiologi, Sylvia A Price hal 422). Gastritis menurut jenisnya terbagi menjadi 2, yaitu gastritis akut dan gastritis kronis. Gastritis akut disebabkan oleh mencerna asam atau alkali kuat yang dapat menyebabkan mukosa menjadi gangren atau perforasi. Sedangkan gastritis kronis Inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau maligna dari lambung, atau oleh bakteri Helicobacter pylory (H. Pylory).


B.        SARAN
Berikut beberapa saran untuk dapatmengurangi resiko terkena gastritis:
1.      Makan secara benar. Hindari makanan yang dapat mengiritasi terutama makanan yang pedas, asam, gorengan atau berlemak. Yang sama pentingnya dengan pemilihan jenismakanan yang tepat bagi kesehatan adalah bagaimana cara memakannya. Makanlahdengan jumlah yang cukup, pada waktunya dan lakukan dengan santai.
2.      Hindari alkohol. Penggunaan alkohol dapat mengiritasi dan mengikis lapisan mukosadalam lambung dan dapat mengakibatkan peradangan dan pendarahan.
3.      Jangan merokok. Merokok mengganggu kerja lapisan pelindung lambung, membuatlambung lebih rentan terhadap gastritis dan borok. Merokok juga meningkatkan asamlambung, sehingga menunda penyembuhan lambung dan merupakan penyebab utamaterjadinya kanker lambung. Tetapi, untuk dapat berhenti merokok tidaklah mudah,terutama bagi perokok berat. Konsultasikan dengan dokter mengenai metode yang dapatmembantu untuk berhenti merokok.
4.      Lakukan olah raga secara teratur. Aerobik dapat meningkatkan kecepatan pernapasan dan jantung, juga dapat menstimulasi aktifitas otot usus sehingga membantu mengeluarkanlimbah makanan dari usus secara lebih cepat.
5.      Kendalikan stress. Stress meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke, menurunkansistem kekebalan tubuh dan dapat memicu terjadinya permasalahan kulit. Stress jugameningkatkan produksi asam lambung dan melambatkan kecepatan pencernaan. Karenastress bagi sebagian orang tidak dapat dihindari, maka kuncinya adalahmengendalikannya secara effektif dengan cara diet yang bernutrisi, istirahat yang cukup,olah raga teratur dan relaksasi yang cukup.
6.      Ganti obat penghilang nyeri. Jika dimungkinkan, hindari penggunaan AINS, obat-obatgolongan ini akan menyebabkan terjadinya peradangan dan akan membuat peradanganyang sudah ada menjadi lebih parah. Ganti dengan penghilang nyeri yang mengandungacetaminophe






DAFTAR PUSTAKA
Herdman, Heather.2010. Diagnosis Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
Morhead, Sue. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). America : Mosb
Mc Closkey Dochterman, Joanne. 2004. Nursing Interventions Classification (NIC). America : Mosb
Mansjoer, arif. Dkk.2009, kapita selekta kedokteran . Jakarta. Media aesculapius
Anderson, Sylvia Price. Pathofisiologi: Konsep Klinis proses-proses penyakit
edisi 6 volume II. ECG. Jakarta : 2006
Doengoes M.E. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3 . EGC. Jakarta
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2. Jakarta: EGC
Http//www. Askep Gastritis _ NursingBegin.com.htm
Http//www. laporan-pendahuluan-asuhan-keperawatan_1505.html

Terimakasih telah berkunjung & Semoga membawa manfaat bagi kita semua... :)
Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh...

Oleh : Dini Kurniawati | Dana dan Usaha Himika 2012/2013


0 komentar:

Poskan Komentar